Zaman Serba Debat

Sebenernya perdebatan emang udah ada  sejak dulu kala. Bahkan sejak zaman para nabi dan rasul banyak kaumnya yang mendebat dan tidak patuh pada nabinya. Tapi yang membedakan antara zaman dulu dan zaman sekarang adalah semakin majunya media sosial  atau kemunduran seseorang dalam mencerna suatu hal ?

Sebenernya capek juga tiap liat instagram atau timeline line isinya itu lagi itu lagi yang di share temen-temen. Anehnya lagi ada yang muslim tapi anti banget diajak hidup sesuai aturan Allah. Lah piye?

Sejak kemajuan era medsos yang awalnya hanya untuk bertegur sapa atau berkenalan dengan orang baru, sekarang ini banyak disalah gunakan oleh kebanyakan orang. Sejujurnya saya sangat menghindari perdebatan yang jawabannya sudah saya yakini. Seperti yang lagi happening banget yaitu debat tentang agama. Hal ini memang sangat sensitive. Namun saran saya kalau ingin ikut berdebat carilah  sumber  yang terpercaya, akurat, no hoax dll terlebih dahulu.

Satu satunya buku atau kitab yang menjadi sumber terpercaya bagi saya hanya Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an bukanlah ciptaan manusia yang dapat ditulis sesuka hati oleh manusia atau direvisi seperti skripsi. Lalu baca hadist-hadist shahih, itu petunjuk hidup banget , serius!

Dulu pemikiran saya yang agak “bebas” dapat dengan mudah percaya dengan teori-teori buatan manusia yang pastinya tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Namun lama-lama saya merasa itu salah dan tidak diterima akal saya.

Setelah saya membaca Al-Qur’an dan memahami artinya ternyata banyak teori-teori yang melenceng dari apa yang Tuhan telah ciptakan. Sungguh aneh tapi nyata. Sungguh aneh kenapa kebanyak manusia sekarang lebih mengagungkan “pikiran manusia” dibandingkan firman Tuhan.

Saran saya lagi untuk muslim dan muslimah yang masih mencari kebenaran, bacalah kitabmu. Adab berbicara, pergaulan, menikah, hidup, mati, hari pembalasan, proses penciptaan manusia, bumi, tata surya, semua yang terjadi di dunia ini lengkap pake banget di jelaskan dalam Al-Qur’an.

Jadikanlah buku bacaan lain hanya sebagai pengetahuan sampingan dan jangan langsung telan mentah-mentah. Sesungguhnya ilmu didunia ini banyak dan tidak ada manusia yang bisa menguasai semua ilmu itu.

Daaan bagi yang masih suka berdebat tolong baca bismillah dulu sebelum nulis (kan di ig sama line) dan yang terpenting jangan mensugesti pemikiran orang awam yang masih mencari kebenaran 🙂 Ingatlah hadist berikut : “Sesungguhnya orang yang paling dimurkai oleh Allah adalah orang yang selalu mendebat.” [HR. Bukhâri, no. 2457; Muslim, no. 2668; dll] (https://almanhaj.or.id/3360-bicara-tanpa-pahala.html)

Advertisements

Bulan Penuh Berkah

ramadan-kareem-images

 

 

Tak pernah sesenang ini ku menyambut mu

Tak pernah sebahagia ini ku menunggu mu

Tak pernah merencanakan apa yang akan ku lakukan sebelumnya

Hanya melaksanakan tanpa tau apa yang hendak ku cari

Tahun ini tak seperti tahun sebelumnya dalam menyambut mu

Tahun ini ku ingin banyak melakukan kebaikan yang selalu ku tahan

Tahun ini waktunya untuk melakukan perubahan

Tahun ini yang diperlukan adalah aksi

Bukan angan-angan belaka yang tak terealisasi

Berbagi, berbagi dan berbagi

Bulan yang penuh berkah adalah waktu yang tepat

Ketika semua pintu surga Nya di buka

Ketika semua pahala dari Nya dilipat gandakan

Tiada yang lebih menggembirakan di banding bulan penuh berkah

 

-YZ-

Ketika Iman Turun

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Hal yang sangat saya takuti yaitu ketika iman sedang diuji dan saya tidak bisa teguh mempertahankan iman saya. Apa yang harus saya lakukan ketika hawa nafsu lebih mendominasi dan iman melemah?

Sebagai manusia ada dimana keimanan kita akan diuji. Karena orang beriman belum disebut beriman kalau ia tidak diuji dan lulus akan ujian tersebut. Namun terkadang godaan setan untuk lebih mementingkan duniawi lebih kuat dan dikala keimanan sedang turun semua godaan setan itu bisa dilakukan.

Setelah proses hijrah ini memang saya lebih pemilih dalam pergaulan, bukan karena saya tidak suka dengan orang tersebut, namun saya takut iman saya yang masih lemah ini akan mudah goyah dan kembali seperti dulu. Karena saya sadar peran lingkungan dan pertemanan sangat berpengaruh dalam proses naik-turunnya iman.

Saya tidak ingin melihat masa lalu, yang saya ingin hanya menjalani hidup sekarang dengan penuh ketaqwaan.

Melakukan dosa kecil mungkin menjadi salah satu faktor keimanan terkikis. Ya, saya sadar akan hal itu, ketika kita berusaha istiqomah namun sulit untuk menghindari dosa kecil yang berkamuflase menjadi kenikmatan dunia. Terkadang pertanyaan-pertanyaan aneh sering terlintas di pikiran, di saat itu kalau saya tidak semakin mendekat kepada Sang Pencipta bisa jadi saya menjadikan pertanyaan itu menjadi pernyataan.

Kepada Sang Pencipta Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang lah saya meminta untuk diteguhkan iman saya di jalan-Nya. Menghindari dosa-dosa kecil yang tanpa saya sadari jika dosa itu rutin dilakukan bisa menjadi pelemah keimanan.

Ya Allah hidupkan kami dengan iman
Ya Allah matikan kami dalam iman
Ya Allah bangkitkan kami dengan iman
Dan masukkan ke surga-Mu dengan iman

-unic : doa iman-

Kenapa Takut?

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ga terasa tahun 2017 udah memasuki bulan April. Entah karena udah “tua” jadi berasa waktu berlalu cepet banget. Terus terlintas dipikiran, selama ini udah ngapain aja? Kenapa waktu bisa berlalu dengan cepat tapi kaya belum melakukan hal apa-apa? Bisa jadi karena belum memanfaatkan waktu itu sebaik mungkin dengan berbuat kebaikan dan melakukan hal yang bermanfaat.

Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Kalau flashback ke masa jahiliyah aduh jadi mikir “ kok dulu gue gitu amat ya”. Sekarang baru ngerti kenapa hidayah itu penting banget dan hidayah itu sebenernya udah sering nyamperin dan ngerasa pengen berubah jadi lebih baik, tapi emang iman lemah banget jadi hidayah yang udah tinggal ditangkep itu malah dilepas.

Kalo ga salah sekitar tahun 2014 udah ada sinyal-sinyal menuju kearah memperbaiki diri, tapi ternyata godaan setan lebih menggiurkan. Naudzubillah.

Entah takut dibilang ga gaul, ga kekinian, dan lain-lain yang sifatnya hanya pujian dari manusia, dilepas sudah hidayah itu. Kadang orang ngerasa takut buat nangkep hidayah itu. Karena apa? Ya karena masih mikirin dunia dan anggapan orang. Padahal belum tentu juga orang itu mikirin kita.

Allah Maha Baik. Ternyata bener ucapan orang-orang tentang hidayah. Sekali dapet hidayah dan tetep istiqomah ternyata hidup lebih tentram. Ga mikirin lagi pujian orang yang bisa jadi malah melalaikan diri, intinya ga mikirin urusan dunia yang sifatnya  hanya sementara, karena percaya atau engga dunia itu cuma sebentar banget. Pernah baca “76 tahun di dunia = 1 hari di akhirat”. Dunia itu cuma tempat singgah, perumpamaannya kaya lagi di jalan, ngeliat ada pohon terus istirahat sebentar di bawah pohon sebelum lanjut pulang ke rumah. Nah itulah dunia.

 

 

“Genggamlah dunia di tanganmu & letakan akhirat di hatimu, agar kamu senantiasa teringat akhirat tanpa melupakan dunia.” (Abu Bakar Ash Shiddiq)

 

 

Welcome 2017, Goodbye 2016

Selamat datang tahun 2017! Di tahun yang baru ini semoga kita semua menjadi orang yang lebih baik lagi dalam menyikapi diri sendiri maupun dalam menyikapi persoalan-persoalan dari luar. Makin dewasa dalam berpikir, di era kemajuan teknologi ini jangan sampai terpancing dan mudah percaya menyerap berita-berita yang ada. Harus pandai memilih siapa orang yang pantas untuk menjadi panutan dalam hal positif.

Throwback 2016, meskipun banyak hal yang belum tercapai di 2016 namun banyak hal juga yang sudah terjadi. Alhamdulillah di tahun 2016 masih diberi kesehatan, masih bisa berkumpul dengan keluarga, teman, sahabat, masih bisa pergi-pergi ke luar kota -walau waktu terbatas-, bisa prasidang dan masih banyak lagi yang udah terjadi. Di tahun 2016 juga muncul kembali niat menulis blog yang dulu sempat vakum karena rasa malas #ups

Memasuki awal tahun 2017, pastinya kita semua harus punya list resolusi yang harus dicapai tahun ini. Saya pun begitu, semaleman saya berfikir, sampai kapan saya mau hidup begini terus (memenjarakan diri dalam comfort zone) saya harus bisa keluar dari kehidupan saya yang begitu-begitu terus. Saya harus mencoba banyak hal di tahun 2017, tentunya hal postif. Dengan membuat list itu, memacu kita dalam setiap langkah kedepannya.

Semangat mengejar dan mewujudkan list-list resolusi tahun 2017! Agar kita bisa menjadi orang yang lebih bermanfaat dan tiada penyesalan di akhir tahun 2017 nanti!

 

もう一度

明けましておめでとうございます!

1-1-17

 

The Lodge Maribaya Bandung

Pada tanggal 1 September kemarin, saya dan kelima teman saya mengunjungi salah satu tempat wisata yang lagi hitz di Bandung, tepatnya daerah Lembang, yaitu The Lodge Maribaya. Kami mengendarai sepeda motor dari Jatinangor melewati Ujung Berung hingga ke Lembang. Waktu perjalanan kurang lebih 2 jam, jalanan cukup bagus namun ada beberapa kawasan yang jalanannya masih belum di aspal dan jalanan berkelok-kelok. Jadi harus hati-hati banget kalau mau lewat jalur ini.

Letak The Lodge Maribaya sendiri ada di sebelah kiri jalan kalau lewat jalur Ujung Berung, sedangkan kalau lewat jalur Lembang-nya sendiri ada di sebelah kanan jalan dan letaknya paling jauh diantara Maribaya yang lain (FYI, Maribaya memiliki 3 spot yang berbeda ada Maribaya Hot Spring Resort, Air Terjun Maribaya dan yang kami kunjungi yaitu The Lodge Maribaya).

Letak The Lodge Maribaya ini tidak berada di pinggir jalan seperti Maribaya Hot Spring Resort, kita harus melewati jalan agak sempit baru bisa menemukan Lodge Maribaya. Namun sayangnya papan plang yang ada di pinggir jalan terlalu kecil, jadi agak sulit menemukannya. Bagi yang mau mengunjungi tempat wisata ini harus cermat dalam melihat papan plang di jalan, jangan sampai kebablasan seperti kami dan berujung minta bantuan jasa tourguide (katanya) dan alhasil 100.000 melayang. :”)

Begitu sampai kami membayar 5.000 rupiah/ motor. Tiket masuk seharga 15.000 rupiah/ org. Di The Lodge Maribaya ini terdapat beberapa macam jenis permainan untuk spot foto. Ada sky tree–foto ala-ala di atas pahon, foto di ayunan berlatar hamparan pohon pinus yang indah, dan foto dengan menggunakan sepeda yang berjalan di atas tali. Untuk naik wahana ini harus membayar lagi sebesar 20.000 rupiah dan 15.000 rupiah untuk sky tree.

Selain wahana spot foto di atas, di The Lodge Maribaya ini juga terdapat tempat camping. Uniknya kita ga usah bawa tenda lagi dari rumah karena udah disiapin dari sana, dan bentuk tendanya tuh lucuuu banget kaya bentuk bawang gitu. Untuk kisaran harga menginapnya sendiri saya kurang tau karena saya tidak menginap dan tidak bertanya lebih lanjut. Semacem udah punya feeling kalau harganya pasti ratusan ribu. :”)

Selain itu fasilitas lain di tempat wisata ini ada mushollah yang super mini alias kurang luas, restoran sunda bagi pengunjung yang ingin makan dan minum, dan toilet. Oiya sebenernya dilarang membawa makanan dan minuman dari luar. Tapi ga diperiksa juga tas-nya, jadi teman saya bawa botol minum dari luar santai aja. Hehe

Jangan lupa siapkan perlengkapan perang untuk berfoto karena banyak spot foto yang bagus untuk dipajang di sosial media! 😀

Kota Batu we’re coming!

Minggu ke-2 di Pare, kami memutuskan untuk menghabiskan weekend di kota Batu, Malang. Dengan menyewa mobil travel seharga kurang lebih 700.000 rupiah + supir tapi belum sama bensin, kami berencana mengunjungi Omah Kayu, Coban Rondo dan Alun-Alun Batu. Bersama 12 member lainnya kami berangkat jam 06.30 pagi.

Jalan menuju lokasi agak seram juga ya, karena harus menanjak dan berbelok. Sampai di Omah Kayu kurang lebih jam 8.30 WIB. Wow! Disana sejuuuk banget udaranya, kayak di Lembang gitu, dan pemandangannya indah banget! Kita bisa melihat kota Batu dari atas bukit dan gunung-gunung di sekelilingnya. Pokoknya worth it banget deh! Nah selain melihat pemandangan kota Batu kami juga masuk ke rumah pohon untuk foto-foto. Tiket masuknya 5.000 rupiah sajaaa. Di sana terdapat cukup banyak rumah pohon yang disewakan untuk menginap. Pohon-pohon menjulang tinggi menambah keasrian di rumah pohon. Namun karena rumah pohon itu untuk disewakan, kami hanya foto-foto di depan rumah pohon. Kalau kalian senang dengan olahraga menantang seperti paralayang, di sana juga ada lho! Namun kami tidak mencoba karena harganya yang cukup mahal bagi mahasiswa seperti kami, kalau tidak salah harganya sekitar 300.000 rupiah/orang.

Jam 10.00 kami melanjutkan perjalanan ke Coban Rondo. Ternyata tempat wisata Coban Rondo tidak jauh dari Omah Kayu, kurang lebih 15 menit naik kendaraan. Sampai di Coban Rondo kami langsung menuju air terjun yang letaknya paling ujung dan paling jauh dari pintu masuk. Air terjunnya cukup tinggi dan yang pasti air-nya dingiiiin bangeeet!

Selain ada air terjun, di Coban Rondo juga terdapat banyak arena bermain, seperti memanah, tembak-tembakan, dan yang paling hitz itu labirin-nya. Namun setiap mau bermain atau masuk ke labirin wajib membayar lagi dengan harga tiket yang berbeda-beda. Karena waktu itu pas kami mau main di labirin tiba-tiba hujan turun dan tidak berhenti-berhenti, kami memutuskan untuk berteduh di musholla sekalian sholat dzuhur. Hmmm… menurut saya fasilitas di Coban Rondo ini masih perlu ditingkatkan lagi, seperti musholla, wc, tempat wudhu, sayang sekali kalau tempat wisata yang bisa menarik banyak wisatawan tidak didukung dengan fasilitas yang memadai.

Saran aja kalau mau mengunjungi kota Batu jangan saat musim hujan, karena hanya akan menghabiskan waktu di dalam mobil. Sudah dua kali saya mengunjungi kota Batu dan selalu di bulan Januari :’) yah beginilah untung-untungan, berdoa semoga tidak hujan sepanjang hari.

Klik foto untuk memperbesar 🙂

 

 

Kampung Inggris Part 2 (Weekend)

Minggu pertama kami mengikuti program di UE ini sungguh membuat kami kelelahan. Bayangkan, kami harus bangun pukul 5 pagi untuk mengikuti kelas morning expression lalu dilanjut lagi dari jam 7-12 siang kelas grammar, pronunciation dan speaking dan dilanjut lagi dari jam 3-6 sore kelas vocab dan grammar. Eitss belum selesai, jam 7-9 malam ada kelas malam juga yang kadang diisi dengan debate class maupun materi lainnya hmmmm…sugoi ne… dan begitulah seterusnya hingga sebulan kedepan.

Jangan tanya bentuk kami sudah macam apa, mata berkantung, kulit udah gak jelas antara kering dan makin eksotis ( baca : item ) terutama saya sih gak tau kenapa kulit saya di sana jadi kering banget, terutama bagian wajah. Sebenarnya gak panas-panas banget sih udaranya tapi kalau siang teriiiik banget dan sorenya biasanya hujan derasss menyebabkan kami jarang masuk kelas sore karena terjebak hujan di camp, sebenarnya pada kecapekan juga sih jadi aja lanjut bobo siang ehe.

Nah akhir pekannya, Sabtu dan Minggu kami dan teman-teman camp lainnya memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar Pare. Hari Sabtu-nya kami mengunjungi sebuah candi yang ada di daerah emmmm apa ya nama desanya—lupa— pokoknya nama candi-nya Candi Surowono, dengan mengayuh sepeda tentunya. Nah kalau mau tau penjelasan tentang Candi Surowono bisa baca di sini. Tadinya setelah dari Candi Surowono kami mau mengunjungi Goa yang katanya tidak jauh dari candi, tapi belajar dari pengalaman yang kata orang-orang Candi Surowono itu “dekat” akhirnya kami tidak jadi pergi ke Goa, takut zonk gitu :’) karena juga sudah capek banget, pengen yang seger-seger, dingin-dingin, dan basah-basahan akhirnya kami langsung menuju kolam renang, nah kalau kolam renang ini jaraknya beneran dekat dari candi. Sesuatu banget di desa seperti ini bisa menemukan kolam renang dengan harga yang murah dan lumayan lah kolamnya luasss. Banyaknya sih emang orang-orang yang lagi ikut program di kampung inggris yang datang berkunjung, tapi banyak juga warga sekitar yang datang untuk berenang.

Pulangnya kami harus mengayuh sepeda lagi :’) Jarak dari camp kami ke Candi Surowono dan kolam renang jauuuuuh banget, gak lagi-lagi naik sepeda kesana, lebih baik menyewa sepeda motor—disana juga banyak penyewaan sepeda motor—range harga tergantung jam dan tempat penyewaan antara 45.000-90.000 rupiah.

Lanjut ke hari Minggu, hari ini kami memutuskan untuk mengunjungi salah satu ikon Kediri yang lagi banyak diperbincangkan khalayak ramai, yaitu Monumen Simpang Lima Gumul. Bentuknya seperti gate gitu yang katanya mirip seperti bangunan Arc de Triomphe di Paris. Berhubung saya belum pernah ke Paris dan liat secara langsung bangunan itu, akhirnya saya searching aja di mbah google dan emang mirip banget! “Wow Paris pindah ke Kediri!” salah satu kalimat yang saya baca. Jarak dari kampung inggris ke Simpang Lima Gumul yang disingkat SLG sekitar 30-45 menit ya tergantung bawa kendaraannya juga. Kami berangkat sore jam 5-an dan tiba disana pas adzan magrib.

Monumen-nya keren banget! Emang berasa kaya lagi di luar negeri gitu, pas banget kalau datang kesini malam-malam, karena monumen-nya jadi terang karena ada lampu-lampu di sekitarnya. Kami langsung heptic memotret sana-sini. Di sana juga ada tulisan “ Kediri Lagi “ yang disinari lampu. Tidak ada biaya masuknya, cukup membayar uang parkir, ada juga yang parkir di pinggir jalan gitu, tapi itu mengganggu pengendara yang akan melintas menurut saya, karena letaknya benar-benar ada di persimpangan yang membagi menjadi 5 jalur, harus tanya-tanya lagi sama tukang parkir jalan pulang ke kampung inggris karena belokannya banyak.

Minggu pertama kami berakhir dengan indah, walau muka bengep :’)

 

Processed with VSCOcam with se3 preset

Surowono Temple

Processed with VSCOcam

The stones was collapse

Swimming swimming

Swimming swimming

 

Kampung Inggris Part 1

Awal tahun 2016 sekaligus libur semester ganjil yang berlangsung selama 2 bulan (pertengahan Desember sampai pertengahan Februari) saya manfaatkan untuk mendatangi salah satu kota di Jawa Timur yaitu kota Kediri. Jauh-jauh ke kota ini bukan hanya untuk jalan-jalan namun saya berniat untuk meningkatkan kemampuan bahasa inggris di salah satu daerah yang sudah sangat terkenal yaitu Kampung Inggris atau English Village di Pare, Kediri. Kedatangan saya ke kampung inggris tidak sendiri, saya bersama keenam teman berencana mengisi waktu liburan kami selama sebulan untuk mengikuti camp di Pare. Jauh-jauh hari kami mencari tempat kursus yang akan kami ikuti, ternyata ada banyak tempat kursus disana, dan tidak hanya bahasa inggris, dibeberapa tempat membuka kursus bahasa arab juga. Pilihan kami jatuh pada Universal English. Kami mencari jadwal yang tidak terlalu padat namun mencakup semua aspek (speaking, grammar, writing, pronunciation) dan di Universal English atau UE ini kami rasa sudah mencakup semua karena jadwal hanya dari Senin-Jum’at, sehingga Sabtu dan Minggunya kami tetap bisa refreshing.

Tanggal 8 Januari kami berangkat. Saya dan salah satu teman saya berangkat dari Stasiun Senen, dan sisanya berangkat dari Stasiun Kircon–Bandung. Singkat cerita tibalah kami di Stasiun Kediri setelah menempuh perjalanan kurang lebih 16 jam . Ternyata banyak sekali orang yang datang ke Kediri untuk mengikuti kampung inggris di Pare. Keluar dari stasiun sudah banyak jasa travel, ojek, becak yang menawarkan untuk diantar sampai kampung Inggris. Saya baru tau juga ternyata jarak antara kota Kediri dengan Kampung Inggris di Pare sekitar 1 jam-an, jadi mau ga mau kami harus menyewa jasa transportasi yang ada. Kalau mau di jemput dari tempat kursusnya pun bisa namun biasanya ada biaya tambahan, tapi tergantung tempat kursus itu sendiri sih.

Setelah muter-muter stasiun kesana kemari nyari masjid, tempat makan, nanya-nanya ke tukang becak, abang minuman, ibu penjual makanan, kami mendapat harga yang cukup murah untuk travel, yaitu 300.000 untuk 7 orang. Oiya jangan kaget ya kalau harga setiap penumpangnya beda-beda, biasanya abangnya asal nembak harga, apalagi kalau ada kereta yang baru tiba, harga langsung bisa naiiiiik.

Tibalah kami di kawasan Kampung Inggris Pare. Hmmm.. pertama kali liat suasananya kayak di kampus-kampus gitu, banyak anak mudanya yang berasa lagi kuliah, tempat makan berjejer di pinggir jalan, dan sama sekali ga ada angkot, jadi kalau mau kemana-mana naik sepeda atau motor. Begitu sampai kami langsung diantar ke kantor agen tempat kami daftar online. Setelah itu kami langsung menuju office UE yang tidak jauh dari kantor agen. Sekedar info, lebih baik mendaftar langsung ke lembaga yang dipilih atau kalau kita dari luar kota bisa coba telfon office lembaganya, agar terhindar dari hal yang tidak diinginkan.

Setelah urusan administrasi dan lain-lain, kami diantar ke camp menggunakan motor. Camp putra dan putri dipisah, kebetulan kami dapat camp di Jl. Anyelir. Setelah semua barang-barang diangkut ke camp kami berkenalan dengan penghuni-penghuni camp lama. Ternyata bentuk campnya seperti rumah dengan 5 kamar dan 3 kamar mandi, setiap kamar bisa diisi 4-6 orang. Fasilitas lain ada tv, dan kami menyesal karena tidak membawa kompor kecil untuk memasak, kan lumayan sebulan buat ngirit biaya makan di luar. Member-member disini rata-rata baru lulus SMA dan mau mengikuti SNMPTN, kami yang mahasiswa tingkat akhir ini pun merasa tua….

Hebatnya mereka rata-rata mengikuti program 3 bulan, wow bahkan diantara mereka sudah ada yang menjadi tutor, dan mereka berasal dari luar kota, luar provinsi maupun luar pulau!! Bahkan ada yang mengikuti program di dua lembaga sekaligus, saya aja yang cuma satu berasa capek. Hari pertama di Pare ga banyak yang kita kerjain karena udah lelah bangeeet tapi hal wajib yang harus dilakukan pas nyampe adalah cari tempat penyewaan sepeda! Penting nih sepeda, kan lumayan sebulan di Pare bisa keliling-keliling naik sepeda. Range harga berkisar 60-000 sampai 90.000 rupiah per-bulan.

Dan petualangan kami pun dimulai 🙂

 

Welcome to Kediri Station

Wajah wajah kami

Wajah wajah kami