The Lodge Maribaya Bandung

Pada tanggal 1 September kemarin, saya dan kelima teman saya mengunjungi salah satu tempat wisata yang lagi hitz di Bandung, tepatnya daerah Lembang, yaitu The Lodge Maribaya. Kami mengendarai sepeda motor dari Jatinangor melewati Ujung Berung hingga ke Lembang. Waktu perjalanan kurang lebih 2 jam, jalanan cukup bagus namun ada beberapa kawasan yang jalanannya masih belum di aspal dan jalanan berkelok-kelok. Jadi harus hati-hati banget kalau mau lewat jalur ini.

Letak The Lodge Maribaya sendiri ada di sebelah kiri jalan kalau lewat jalur Ujung Berung, sedangkan kalau lewat jalur Lembang-nya sendiri ada di sebelah kanan jalan dan letaknya paling jauh diantara Maribaya yang lain (FYI, Maribaya memiliki 3 spot yang berbeda ada Maribaya Hot Spring Resort, Air Terjun Maribaya dan yang kami kunjungi yaitu The Lodge Maribaya).

Letak The Lodge Maribaya ini tidak berada di pinggir jalan seperti Maribaya Hot Spring Resort, kita harus melewati jalan agak sempit baru bisa menemukan Lodge Maribaya. Namun sayangnya papan plang yang ada di pinggir jalan terlalu kecil, jadi agak sulit menemukannya. Bagi yang mau mengunjungi tempat wisata ini harus cermat dalam melihat papan plang di jalan, jangan sampai kebablasan seperti kami dan berujung minta bantuan jasa tourguide (katanya) dan alhasil 100.000 melayang. :”)

Begitu sampai kami membayar 5.000 rupiah/ motor. Tiket masuk seharga 15.000 rupiah/ org. Di The Lodge Maribaya ini terdapat beberapa macam jenis permainan untuk spot foto. Ada sky tree–foto ala-ala di atas pahon, foto di ayunan berlatar hamparan pohon pinus yang indah, dan foto dengan menggunakan sepeda yang berjalan di atas tali. Untuk naik wahana ini harus membayar lagi sebesar 20.000 rupiah dan 15.000 rupiah untuk sky tree.

Selain wahana spot foto di atas, di The Lodge Maribaya ini juga terdapat tempat camping. Uniknya kita ga usah bawa tenda lagi dari rumah karena udah disiapin dari sana, dan bentuk tendanya tuh lucuuu banget kaya bentuk bawang gitu. Untuk kisaran harga menginapnya sendiri saya kurang tau karena saya tidak menginap dan tidak bertanya lebih lanjut. Semacem udah punya feeling kalau harganya pasti ratusan ribu. :”)

Selain itu fasilitas lain di tempat wisata ini ada mushollah yang super mini alias kurang luas, restoran sunda bagi pengunjung yang ingin makan dan minum, dan toilet. Oiya sebenernya dilarang membawa makanan dan minuman dari luar. Tapi ga diperiksa juga tas-nya, jadi teman saya bawa botol minum dari luar santai aja. Hehe

Jangan lupa siapkan perlengkapan perang untuk berfoto karena banyak spot foto yang bagus untuk dipajang di sosial media! 😀

Advertisements

Kota Batu we’re coming!

Minggu ke-2 di Pare, kami memutuskan untuk menghabiskan weekend di kota Batu, Malang. Dengan menyewa mobil travel seharga kurang lebih 700.000 rupiah + supir tapi belum sama bensin, kami berencana mengunjungi Omah Kayu, Coban Rondo dan Alun-Alun Batu. Bersama 12 member lainnya kami berangkat jam 06.30 pagi.

Jalan menuju lokasi agak seram juga ya, karena harus menanjak dan berbelok. Sampai di Omah Kayu kurang lebih jam 8.30 WIB. Wow! Disana sejuuuk banget udaranya, kayak di Lembang gitu, dan pemandangannya indah banget! Kita bisa melihat kota Batu dari atas bukit dan gunung-gunung di sekelilingnya. Pokoknya worth it banget deh! Nah selain melihat pemandangan kota Batu kami juga masuk ke rumah pohon untuk foto-foto. Tiket masuknya 5.000 rupiah sajaaa. Di sana terdapat cukup banyak rumah pohon yang disewakan untuk menginap. Pohon-pohon menjulang tinggi menambah keasrian di rumah pohon. Namun karena rumah pohon itu untuk disewakan, kami hanya foto-foto di depan rumah pohon. Kalau kalian senang dengan olahraga menantang seperti paralayang, di sana juga ada lho! Namun kami tidak mencoba karena harganya yang cukup mahal bagi mahasiswa seperti kami, kalau tidak salah harganya sekitar 300.000 rupiah/orang.

Jam 10.00 kami melanjutkan perjalanan ke Coban Rondo. Ternyata tempat wisata Coban Rondo tidak jauh dari Omah Kayu, kurang lebih 15 menit naik kendaraan. Sampai di Coban Rondo kami langsung menuju air terjun yang letaknya paling ujung dan paling jauh dari pintu masuk. Air terjunnya cukup tinggi dan yang pasti air-nya dingiiiin bangeeet!

Selain ada air terjun, di Coban Rondo juga terdapat banyak arena bermain, seperti memanah, tembak-tembakan, dan yang paling hitz itu labirin-nya. Namun setiap mau bermain atau masuk ke labirin wajib membayar lagi dengan harga tiket yang berbeda-beda. Karena waktu itu pas kami mau main di labirin tiba-tiba hujan turun dan tidak berhenti-berhenti, kami memutuskan untuk berteduh di musholla sekalian sholat dzuhur. Hmmm… menurut saya fasilitas di Coban Rondo ini masih perlu ditingkatkan lagi, seperti musholla, wc, tempat wudhu, sayang sekali kalau tempat wisata yang bisa menarik banyak wisatawan tidak didukung dengan fasilitas yang memadai.

Saran aja kalau mau mengunjungi kota Batu jangan saat musim hujan, karena hanya akan menghabiskan waktu di dalam mobil. Sudah dua kali saya mengunjungi kota Batu dan selalu di bulan Januari :’) yah beginilah untung-untungan, berdoa semoga tidak hujan sepanjang hari.

Klik foto untuk memperbesar 🙂

 

 

Kampung Inggris Part 2 (Weekend)

Minggu pertama kami mengikuti program di UE ini sungguh membuat kami kelelahan. Bayangkan, kami harus bangun pukul 5 pagi untuk mengikuti kelas morning expression lalu dilanjut lagi dari jam 7-12 siang kelas grammar, pronunciation dan speaking dan dilanjut lagi dari jam 3-6 sore kelas vocab dan grammar. Eitss belum selesai, jam 7-9 malam ada kelas malam juga yang kadang diisi dengan debate class maupun materi lainnya hmmmm…sugoi ne… dan begitulah seterusnya hingga sebulan kedepan.

Jangan tanya bentuk kami sudah macam apa, mata berkantung, kulit udah gak jelas antara kering dan makin eksotis ( baca : item ) terutama saya sih gak tau kenapa kulit saya di sana jadi kering banget, terutama bagian wajah. Sebenarnya gak panas-panas banget sih udaranya tapi kalau siang teriiiik banget dan sorenya biasanya hujan derasss menyebabkan kami jarang masuk kelas sore karena terjebak hujan di camp, sebenarnya pada kecapekan juga sih jadi aja lanjut bobo siang ehe.

Nah akhir pekannya, Sabtu dan Minggu kami dan teman-teman camp lainnya memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar Pare. Hari Sabtu-nya kami mengunjungi sebuah candi yang ada di daerah emmmm apa ya nama desanya—lupa— pokoknya nama candi-nya Candi Surowono, dengan mengayuh sepeda tentunya. Nah kalau mau tau penjelasan tentang Candi Surowono bisa baca di sini. Tadinya setelah dari Candi Surowono kami mau mengunjungi Goa yang katanya tidak jauh dari candi, tapi belajar dari pengalaman yang kata orang-orang Candi Surowono itu “dekat” akhirnya kami tidak jadi pergi ke Goa, takut zonk gitu :’) karena juga sudah capek banget, pengen yang seger-seger, dingin-dingin, dan basah-basahan akhirnya kami langsung menuju kolam renang, nah kalau kolam renang ini jaraknya beneran dekat dari candi. Sesuatu banget di desa seperti ini bisa menemukan kolam renang dengan harga yang murah dan lumayan lah kolamnya luasss. Banyaknya sih emang orang-orang yang lagi ikut program di kampung inggris yang datang berkunjung, tapi banyak juga warga sekitar yang datang untuk berenang.

Pulangnya kami harus mengayuh sepeda lagi :’) Jarak dari camp kami ke Candi Surowono dan kolam renang jauuuuuh banget, gak lagi-lagi naik sepeda kesana, lebih baik menyewa sepeda motor—disana juga banyak penyewaan sepeda motor—range harga tergantung jam dan tempat penyewaan antara 45.000-90.000 rupiah.

Lanjut ke hari Minggu, hari ini kami memutuskan untuk mengunjungi salah satu ikon Kediri yang lagi banyak diperbincangkan khalayak ramai, yaitu Monumen Simpang Lima Gumul. Bentuknya seperti gate gitu yang katanya mirip seperti bangunan Arc de Triomphe di Paris. Berhubung saya belum pernah ke Paris dan liat secara langsung bangunan itu, akhirnya saya searching aja di mbah google dan emang mirip banget! “Wow Paris pindah ke Kediri!” salah satu kalimat yang saya baca. Jarak dari kampung inggris ke Simpang Lima Gumul yang disingkat SLG sekitar 30-45 menit ya tergantung bawa kendaraannya juga. Kami berangkat sore jam 5-an dan tiba disana pas adzan magrib.

Monumen-nya keren banget! Emang berasa kaya lagi di luar negeri gitu, pas banget kalau datang kesini malam-malam, karena monumen-nya jadi terang karena ada lampu-lampu di sekitarnya. Kami langsung heptic memotret sana-sini. Di sana juga ada tulisan “ Kediri Lagi “ yang disinari lampu. Tidak ada biaya masuknya, cukup membayar uang parkir, ada juga yang parkir di pinggir jalan gitu, tapi itu mengganggu pengendara yang akan melintas menurut saya, karena letaknya benar-benar ada di persimpangan yang membagi menjadi 5 jalur, harus tanya-tanya lagi sama tukang parkir jalan pulang ke kampung inggris karena belokannya banyak.

Minggu pertama kami berakhir dengan indah, walau muka bengep :’)

 

Processed with VSCOcam with se3 preset

Surowono Temple

Processed with VSCOcam

The stones was collapse

Swimming swimming

Swimming swimming