Kota Batu we’re coming!

Minggu ke-2 di Pare, kami memutuskan untuk menghabiskan weekend di kota Batu, Malang. Dengan menyewa mobil travel seharga kurang lebih 700.000 rupiah + supir tapi belum sama bensin, kami berencana mengunjungi Omah Kayu, Coban Rondo dan Alun-Alun Batu. Bersama 12 member lainnya kami berangkat jam 06.30 pagi.

Jalan menuju lokasi agak seram juga ya, karena harus menanjak dan berbelok. Sampai di Omah Kayu kurang lebih jam 8.30 WIB. Wow! Disana sejuuuk banget udaranya, kayak di Lembang gitu, dan pemandangannya indah banget! Kita bisa melihat kota Batu dari atas bukit dan gunung-gunung di sekelilingnya. Pokoknya worth it banget deh! Nah selain melihat pemandangan kota Batu kami juga masuk ke rumah pohon untuk foto-foto. Tiket masuknya 5.000 rupiah sajaaa. Di sana terdapat cukup banyak rumah pohon yang disewakan untuk menginap. Pohon-pohon menjulang tinggi menambah keasrian di rumah pohon. Namun karena rumah pohon itu untuk disewakan, kami hanya foto-foto di depan rumah pohon. Kalau kalian senang dengan olahraga menantang seperti paralayang, di sana juga ada lho! Namun kami tidak mencoba karena harganya yang cukup mahal bagi mahasiswa seperti kami, kalau tidak salah harganya sekitar 300.000 rupiah/orang.

Jam 10.00 kami melanjutkan perjalanan ke Coban Rondo. Ternyata tempat wisata Coban Rondo tidak jauh dari Omah Kayu, kurang lebih 15 menit naik kendaraan. Sampai di Coban Rondo kami langsung menuju air terjun yang letaknya paling ujung dan paling jauh dari pintu masuk. Air terjunnya cukup tinggi dan yang pasti air-nya dingiiiin bangeeet!

Selain ada air terjun, di Coban Rondo juga terdapat banyak arena bermain, seperti memanah, tembak-tembakan, dan yang paling hitz itu labirin-nya. Namun setiap mau bermain atau masuk ke labirin wajib membayar lagi dengan harga tiket yang berbeda-beda. Karena waktu itu pas kami mau main di labirin tiba-tiba hujan turun dan tidak berhenti-berhenti, kami memutuskan untuk berteduh di musholla sekalian sholat dzuhur. Hmmm… menurut saya fasilitas di Coban Rondo ini masih perlu ditingkatkan lagi, seperti musholla, wc, tempat wudhu, sayang sekali kalau tempat wisata yang bisa menarik banyak wisatawan tidak didukung dengan fasilitas yang memadai.

Saran aja kalau mau mengunjungi kota Batu jangan saat musim hujan, karena hanya akan menghabiskan waktu di dalam mobil. Sudah dua kali saya mengunjungi kota Batu dan selalu di bulan Januari :’) yah beginilah untung-untungan, berdoa semoga tidak hujan sepanjang hari.

Klik foto untuk memperbesar 🙂

 

 

Advertisements

Kampung Inggris Part 2 (Weekend)

Minggu pertama kami mengikuti program di UE ini sungguh membuat kami kelelahan. Bayangkan, kami harus bangun pukul 5 pagi untuk mengikuti kelas morning expression lalu dilanjut lagi dari jam 7-12 siang kelas grammar, pronunciation dan speaking dan dilanjut lagi dari jam 3-6 sore kelas vocab dan grammar. Eitss belum selesai, jam 7-9 malam ada kelas malam juga yang kadang diisi dengan debate class maupun materi lainnya hmmmm…sugoi ne… dan begitulah seterusnya hingga sebulan kedepan.

Jangan tanya bentuk kami sudah macam apa, mata berkantung, kulit udah gak jelas antara kering dan makin eksotis ( baca : item ) terutama saya sih gak tau kenapa kulit saya di sana jadi kering banget, terutama bagian wajah. Sebenarnya gak panas-panas banget sih udaranya tapi kalau siang teriiiik banget dan sorenya biasanya hujan derasss menyebabkan kami jarang masuk kelas sore karena terjebak hujan di camp, sebenarnya pada kecapekan juga sih jadi aja lanjut bobo siang ehe.

Nah akhir pekannya, Sabtu dan Minggu kami dan teman-teman camp lainnya memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar Pare. Hari Sabtu-nya kami mengunjungi sebuah candi yang ada di daerah emmmm apa ya nama desanya—lupa— pokoknya nama candi-nya Candi Surowono, dengan mengayuh sepeda tentunya. Nah kalau mau tau penjelasan tentang Candi Surowono bisa baca di sini. Tadinya setelah dari Candi Surowono kami mau mengunjungi Goa yang katanya tidak jauh dari candi, tapi belajar dari pengalaman yang kata orang-orang Candi Surowono itu “dekat” akhirnya kami tidak jadi pergi ke Goa, takut zonk gitu :’) karena juga sudah capek banget, pengen yang seger-seger, dingin-dingin, dan basah-basahan akhirnya kami langsung menuju kolam renang, nah kalau kolam renang ini jaraknya beneran dekat dari candi. Sesuatu banget di desa seperti ini bisa menemukan kolam renang dengan harga yang murah dan lumayan lah kolamnya luasss. Banyaknya sih emang orang-orang yang lagi ikut program di kampung inggris yang datang berkunjung, tapi banyak juga warga sekitar yang datang untuk berenang.

Pulangnya kami harus mengayuh sepeda lagi :’) Jarak dari camp kami ke Candi Surowono dan kolam renang jauuuuuh banget, gak lagi-lagi naik sepeda kesana, lebih baik menyewa sepeda motor—disana juga banyak penyewaan sepeda motor—range harga tergantung jam dan tempat penyewaan antara 45.000-90.000 rupiah.

Lanjut ke hari Minggu, hari ini kami memutuskan untuk mengunjungi salah satu ikon Kediri yang lagi banyak diperbincangkan khalayak ramai, yaitu Monumen Simpang Lima Gumul. Bentuknya seperti gate gitu yang katanya mirip seperti bangunan Arc de Triomphe di Paris. Berhubung saya belum pernah ke Paris dan liat secara langsung bangunan itu, akhirnya saya searching aja di mbah google dan emang mirip banget! “Wow Paris pindah ke Kediri!” salah satu kalimat yang saya baca. Jarak dari kampung inggris ke Simpang Lima Gumul yang disingkat SLG sekitar 30-45 menit ya tergantung bawa kendaraannya juga. Kami berangkat sore jam 5-an dan tiba disana pas adzan magrib.

Monumen-nya keren banget! Emang berasa kaya lagi di luar negeri gitu, pas banget kalau datang kesini malam-malam, karena monumen-nya jadi terang karena ada lampu-lampu di sekitarnya. Kami langsung heptic memotret sana-sini. Di sana juga ada tulisan “ Kediri Lagi “ yang disinari lampu. Tidak ada biaya masuknya, cukup membayar uang parkir, ada juga yang parkir di pinggir jalan gitu, tapi itu mengganggu pengendara yang akan melintas menurut saya, karena letaknya benar-benar ada di persimpangan yang membagi menjadi 5 jalur, harus tanya-tanya lagi sama tukang parkir jalan pulang ke kampung inggris karena belokannya banyak.

Minggu pertama kami berakhir dengan indah, walau muka bengep :’)

 

Processed with VSCOcam with se3 preset

Surowono Temple

Processed with VSCOcam

The stones was collapse

Swimming swimming

Swimming swimming

 

Kampung Inggris Part 1

Awal tahun 2016 sekaligus libur semester ganjil yang berlangsung selama 2 bulan (pertengahan Desember sampai pertengahan Februari) saya manfaatkan untuk mendatangi salah satu kota di Jawa Timur yaitu kota Kediri. Jauh-jauh ke kota ini bukan hanya untuk jalan-jalan namun saya berniat untuk meningkatkan kemampuan bahasa inggris di salah satu daerah yang sudah sangat terkenal yaitu Kampung Inggris atau English Village di Pare, Kediri. Kedatangan saya ke kampung inggris tidak sendiri, saya bersama keenam teman berencana mengisi waktu liburan kami selama sebulan untuk mengikuti camp di Pare. Jauh-jauh hari kami mencari tempat kursus yang akan kami ikuti, ternyata ada banyak tempat kursus disana, dan tidak hanya bahasa inggris, dibeberapa tempat membuka kursus bahasa arab juga. Pilihan kami jatuh pada Universal English. Kami mencari jadwal yang tidak terlalu padat namun mencakup semua aspek (speaking, grammar, writing, pronunciation) dan di Universal English atau UE ini kami rasa sudah mencakup semua karena jadwal hanya dari Senin-Jum’at, sehingga Sabtu dan Minggunya kami tetap bisa refreshing.

Tanggal 8 Januari kami berangkat. Saya dan salah satu teman saya berangkat dari Stasiun Senen, dan sisanya berangkat dari Stasiun Kircon–Bandung. Singkat cerita tibalah kami di Stasiun Kediri setelah menempuh perjalanan kurang lebih 16 jam . Ternyata banyak sekali orang yang datang ke Kediri untuk mengikuti kampung inggris di Pare. Keluar dari stasiun sudah banyak jasa travel, ojek, becak yang menawarkan untuk diantar sampai kampung Inggris. Saya baru tau juga ternyata jarak antara kota Kediri dengan Kampung Inggris di Pare sekitar 1 jam-an, jadi mau ga mau kami harus menyewa jasa transportasi yang ada. Kalau mau di jemput dari tempat kursusnya pun bisa namun biasanya ada biaya tambahan, tapi tergantung tempat kursus itu sendiri sih.

Setelah muter-muter stasiun kesana kemari nyari masjid, tempat makan, nanya-nanya ke tukang becak, abang minuman, ibu penjual makanan, kami mendapat harga yang cukup murah untuk travel, yaitu 300.000 untuk 7 orang. Oiya jangan kaget ya kalau harga setiap penumpangnya beda-beda, biasanya abangnya asal nembak harga, apalagi kalau ada kereta yang baru tiba, harga langsung bisa naiiiiik.

Tibalah kami di kawasan Kampung Inggris Pare. Hmmm.. pertama kali liat suasananya kayak di kampus-kampus gitu, banyak anak mudanya yang berasa lagi kuliah, tempat makan berjejer di pinggir jalan, dan sama sekali ga ada angkot, jadi kalau mau kemana-mana naik sepeda atau motor. Begitu sampai kami langsung diantar ke kantor agen tempat kami daftar online. Setelah itu kami langsung menuju office UE yang tidak jauh dari kantor agen. Sekedar info, lebih baik mendaftar langsung ke lembaga yang dipilih atau kalau kita dari luar kota bisa coba telfon office lembaganya, agar terhindar dari hal yang tidak diinginkan.

Setelah urusan administrasi dan lain-lain, kami diantar ke camp menggunakan motor. Camp putra dan putri dipisah, kebetulan kami dapat camp di Jl. Anyelir. Setelah semua barang-barang diangkut ke camp kami berkenalan dengan penghuni-penghuni camp lama. Ternyata bentuk campnya seperti rumah dengan 5 kamar dan 3 kamar mandi, setiap kamar bisa diisi 4-6 orang. Fasilitas lain ada tv, dan kami menyesal karena tidak membawa kompor kecil untuk memasak, kan lumayan sebulan buat ngirit biaya makan di luar. Member-member disini rata-rata baru lulus SMA dan mau mengikuti SNMPTN, kami yang mahasiswa tingkat akhir ini pun merasa tua….

Hebatnya mereka rata-rata mengikuti program 3 bulan, wow bahkan diantara mereka sudah ada yang menjadi tutor, dan mereka berasal dari luar kota, luar provinsi maupun luar pulau!! Bahkan ada yang mengikuti program di dua lembaga sekaligus, saya aja yang cuma satu berasa capek. Hari pertama di Pare ga banyak yang kita kerjain karena udah lelah bangeeet tapi hal wajib yang harus dilakukan pas nyampe adalah cari tempat penyewaan sepeda! Penting nih sepeda, kan lumayan sebulan di Pare bisa keliling-keliling naik sepeda. Range harga berkisar 60-000 sampai 90.000 rupiah per-bulan.

Dan petualangan kami pun dimulai 🙂

 

Welcome to Kediri Station

Wajah wajah kami

Wajah wajah kami